Novel ini berjudul Lasmi. Pendek saja dan sederhana. Judulnya demikian
karena ia berkisah tentang Lasmi atau lengkapnya Lasmiyati, mulai dari tahun
1957 hingga penghujung tahun 1965. Penceritanya adalah Sutikno, laki-laki yang
telah jatuh cinta pada Lasmi bukan karena alasan-alasan yang fisik tetapi
karena Lasmi perempuan yang liyan, berani melawan arus; misalnya pada acara
pemilihan umum, ia tidak menggunakan subang/anting-anting di kedua daun
telinganya padahal berasal dari keluarga yang berada. Suatu hal yang tak lazim
terjadi.
Sutikno sendiri adalah seorang guru desa, pendatang di
kampung Lasmi. Meskipun banyak yang tertarik padanya, Sutikno akhirnya memilih
jatuh cinta pada Lasmi dan menikahinya. Dan perkara anting itu hanya bagian
kecil dari sosok Lasmi di mata Sutikno. Lasmi adalah perempuan yang ingin
masyarakat di sekitar tempat tinggalnya bisa maju lewat pendidikan. Meski
Indonesia sudah lama merdeka, sudah hampir 20 tahun tapi kemajuan belumlah
merata sampai ke desanya di daerah Jawa Tengah. Berawal dari sekedar mengajar
Mak Paini, tetangganya untuk baca-tulis, akhirnya banyak warga desa yang
belajar membaca di rumahnya.
Selepas menikah, Pak Kerto ayahnya rela menghibahkan
sebagian dari tanahnya untuk dibangun menjadi tempat belajar masyarakat. Maka
mulailah ia membangun TK Tunas untuk anak-anak dan membentuk Kerukunan Belajar
Bersama untuk orang dewasa. Pemikirannya yang maju dan terbuka membuatnya
dikenal dan bertemu dengan banyak orang yang berpikiran sama. Itulah yang
menyebabkan Lasmi bertemu dengan anggota aktif Gerakan Wanita Indonesia
(Gerwani) dan kemudian terlibat aktif di dalamnya. Pada masa itu, ada kesamaan
apa yang diinginkan Lasmi dengan kegiatan yang dilakukan Gerwani.
Aktivis-aktivis Gerwani giat memberantas buta huruf, memberikan perempuan
berbagai kursus rumah tangga seperti memasak dan menjahit, menentang kenaikan
harga-harga, serta menuntut upah buruh perempuan agar setara dengan laki-laki.
Yang paling menonjol adalah perjuangan Gerwani yang mempersoalkan soal UU
Pernikahan yang lebih banyak merugikan posisi perempuan di dalam rumah tangga,
terutama mereka menginginkan dimasukkannya anti-poligami dalam UU tersebut.
Maka perubahan demi perubahan terjadi pada kehidupan
Lasmi. Lasmi terpilih menjadi ketua Gerwani di desanya. TK Tunas berganti nama
menjadi TK Melati, rumahnya menjadi kantor cabang Gerwani dan Barisan Tani
Indonesia (BTI) di desanya. Sutikno melihat perubahan itu sebagai hal yang
wajar dan positif. Siapa yang tak senang melihat istri bahagia dengan aktivitas
sosial yang positif. Apalagi masyarakat di desanya, baik itu buruh maupun
petani, menjadi terpelajar dan mampu menyampaikan pendapat secara berani.
Satu-satunya permintaan Sutikno adalah Lasmi bisa membagi waktu, karena mereka
sudah memiliki Gong, anak yang menggemaskan, buah perkawinan mereka.
Prahara terjadi di tahun 1965, imbasnya meluas
kemana-mana. Termasuk ke diri Lasmi dan Sutikno. Sweeping dan pembunuhan sadis
menjadi berita sehari-hari. Sasarannya adalah PKI, PGRI Non-vaksentral, SOBSI,
BTI, IPPI, CGMI, juga Pemuda Rakyat dan Gerwani. Maka mulailah episode pelarian
Lasmi dan keluarganya, yang membawa sengsara dan kesedihan. Ujungnya sudah bisa
ditebak : tragis.
Begitu luar biasa cara penulis Nusya Kuswantin membawa
pembaca untuk mengikuti kisah Lasmi ini. Awalnya pembaca disodorkan suatu
gambaran perempuan yang tak ada duanya: bersahaja, egaliter, menjunjung
kemanusiaan, maju, dan aktif. Mau tak mau, pembaca ikut mengagumi Lasmi, sama
seperti Sutikno suaminya. Kemudian cerita yang manis mulai berganti kelam, yang
ikut juga bisa dirasakan pembaca dengan turut prihatin (hingga menitikkan
airmata) dan gelisah, takut-takut kalau Lasmi tertangkap. Saat sepertinya semua
hampir mulus dengan kisah pelarian, tiba-tiba cerita berbelok tanpa bisa diduga
pembaca. Nusya mampu menghadirkan plot, meskipun linier dan sederhana, namun
tetap menarik untuk diikuti.
Yang juga pantas diangkat dari novel Lasmi ini adalah
kemampuan Nusya menggunakan sastra untuk menulis episode tergelap dalam sejarah
gerakan perempuan di Indonesia. Ia mampu dengan terang-benderang membeberkan
kisah tentang aktivitas Gerwani yang tidaklah sama dengan mitos-mitos gelap
yang ditanamkan subur lewat propaganda militer kepada kita. Mitos bahwa mereka
perempuan sadis yang terlibat dalam penyiksaan dan pembunuhan jenderal di
kawasan Lubang Buaya. Juga mereka yang bertelanjang bulat sambil menari-nari,
menyayat wajah jenderal dengan silet, bahkan memotong p***s jenderal.
Nusya berhasil membangun karakter tokoh Lasmi sebagai
bagian dari gerakan perempuan feminis terbesar dan tersohor di era demokrasi
terpimpin Presiden Soekarno, bahwa perempuan dapat menjadi pemimpin, dapat
mengambil peranan di luar urusan domestik, dapat berorganisasi dan dapat
membuat keputusan-keputusan yang dibangun dari kesadaran. Sebagai bagian dari
suatu gerakan perempuan, Lasmi menyimbolkan gerak langkah para feminis di
Indonesia pada zaman itu untuk membuat perubahan yang berarti. Namun gerakan
ini mengalami beragam tuduhan, termasuk fitnah berkait dengan pembunuhan
jenderal-jenderal militer pada 30 September 1965. Akibatnya anggota Gerwani
ditangkap, disiksa, hingga dibunuh oleh tentara maupun orang sipil yang
termakan propaganda kala itu. Serta merta, gerakan perempuan itupun hancur.
Yang tersisa kemudian selama sekian lama adalah ketakutan perempuan untuk
membangun kembali gerakan untuk perubahan, terdomestifikasi di dalam rumah dan
pasif.
Mengenai penghancuran gerakan perempuan ini dan upaya
untuk mempersoalkan mitos gelap Gerwani, peneliti Saskia Eleanora Wieringa
pernah menulis dalam buku “Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia”
(Jakarta: Garba Budaya & Kalyanamitra, 1999) yang kemudian diterbit ulang
oleh Galang Press, April 2010 dengan judul tambahan “Penghancuran Gerakan
Perempuan di Indonesia Politik Seksual di Indonesia Pasca Kejatuhan PKI”. Dalam
disertasi yang dibukukan tersebut, Saskia mengutip sebuah puisi yang
menggambarkan bagaimana pola pikir perempuan di masa itu:
Kami bukan lagi
bunga pajangan
yang layu dalam
jambangan.
Cantik dalam menurut
indah dalam menyerah
molek tidak menentang
ke neraka mesti
mengikut
ke sorga hanya
menumpang.
Kami bukan juga
bunga tercampak
dalam hidup
terinjak-injak.
Penjual keringat murah
buruh separuh harga
tiada perlindungan
tiada persamaan,
sarat dimuati beban.
Kami telah berseru
dari balik dinding
pingitan
dari dendam pemaduan
dari perdagangan di
lorong malam
dari kesumat kawin
paksaan:
"Kami
manusia"
Sugiarti, 1962
Perempuan di masa itu bergiat berkumpul dalam Gerakan
Wanita Indonesia Sedar (Gerwis) yang tidak hanya berupaya agar perempuan
sejajar haknya dalam perkawinan, namun juga dalam bidang sosial-ekonomi:
hak-hak pekerja dan keikutsertaan dalam perjuangan revolusi. Kemudian sayap
feminis dan sayap komunis dalam Gerwis berdinamika hingga melahirkan Gerwani
sebagai hasil Kongres I Gerwis.
Mengapa banyak perempuan akhirnya memilih turut dalam
Gerwani daripada organisasi perempuan semisal Perwari, tidak lain karena hanya
Gerwani yang berani memperjuangkan hak-hak perempuan di segala bidang, terutama
melawan feodalisme. Melirik paralelisme sejarah dan kesamaan tujuan yang ingin
dicapaikan para tokoh, kemungkinan besar Nusya juga melakukan riset yang cukup
dalam.
Namun, novel ini memiliki sejumlah kelemahan.
Berbicara mengenai tokoh-tokoh perempuan, sastra Indonesia pernah mencatat cerita
mengenai Sanikem alias Nyai Ontosoroh dalam “Bumi Manusia” karya Pramoedya
Ananta Toer, yang menunjukkan betapa nasib seorang perempuan tergantung pada
laki-laki yang berkuasa atas dirinya. Mulanya, nasib Sanikem ditentukan oleh
ayahnya, yang menjualnya kepada tuan administeur Hans Mellema untuk dijadikan
sebagai Nyai. Sanikem mengalami penjualan dirinya itu sebagai sesuatu yang amat
mengerikan dan merendahkan dirinya. Akhirnya Nyai Ontosoroh memperjuangkan
hak-haknya, meski perjuangannya tak semulus harapannya. Penokohan Sanikem kuat
karena pembaca selain bisa turut memahami kekaguman Minke, tetapi bisa melihat
bahwa dalam dialog-dialognya, Nyai Ontosoroh memang demikian cerlang.
Dalam hal ini, tentulah sayang bila Lasmi tidak
mendapat porsi dialog-dialog yang demikian. Dialog yang menyuarakan apa yang
ada di pikirannya, apa yang menjadi kegelisahannya terhadap kehidupan
masyarakat sepertinya tidak ada. Padahal meski disampaikan dalam cerita
Sutikno, bukan berarti Lasmi dibiarkan "terdiam" dengan dialog yang
sedikit, yang digantikan dengan surat sepanjang 16 halaman (hal. 203-219) atau
sekedar mimik/gestur. Sebagai ketua Gerwani, rasanya tak salah mengharapkan ada
pidatonya yang tak kalah hebatnya daripada pemuatan pidato Soekarno dengan
"Tahun Vivere Pericoloso"-nya (hal. 105-115). Bila Nusya memanfaatkan
peluang ini, bukan tidak mungkin penokohan Lasmi akan semakin kuat dan jauh
melebihi Sutikno sendiri. Hal lain adalah melemahnya karakter Lasmi di bagian
akhir cerita, sebagaimana terkutip dalam isi suratnya kepada Sutikno: "...Aku
tak menyangka sama sekali bahwa menjadi bagian dari Gerwani kemudian bisa
dikategorikan sebagai dosa sosial. Andaikan aku tahu Sut, tentu aku tak ingin
terlibat..." (hal. 210). Membaca kalimat terakhir tadi, tentulah
merontokkan bangunan kepercayaan pembaca pada tokoh yang diciptakan penulis.
Buat apa bersimpati pada orang yang pada akhirnya menjadi tidak percaya pada
apa yang diperjuangkannya. Terlebih lagi menjadi putus asa dan "bunuh
diri" pada akhirnya. Rasanya Nusya mengkhianati pembacanya sendiri dengan
menyodorkan semua itu sebagai akhir cerita.
Akan tetapi terlepas dari itu semua, apa yang tersaji
dalam novel Lasmi mampu memberi ruang dalam pembacaan sastra kita, ruang yang
memungkinkan dimuatnya kisah-kisah perempuan anggota Gerwani bagi khalayak
pembaca. Agar semakin benderang apa yang terjadi lewat ditulisnya lebih banyak
lagi karya yang membicarakan periode-periode gelap ini.
Amang Suramang,
Pembaca aktif Goodreads
Indonesia,
penulis naskah,
berdomisili di Jakarta.
Judul Buku : Lasmi
Pengarang : Nusya
Kuswantin
Penerbit : Kakilangit
Kencana
Cetakan : Pertama,
November 2009
Tebal : 232 Halaman
ISBN : 9786028556194








1 komentar:
Kaitannya novel lasmi dengan relasi gender dalam agama apa?
Posting Komentar