RESPONDING
PAPER VI
ISLAM DAN
KESETARAAN GENDER DI KALANGAN MASYARAKAT MUSLIM INDONESIA
*oleh: Ifa Nur
Rofiqoh (1111032100049)
Problema menguatnya
gugatan mengenai ketidakadilan gender terhadap perempuan di masyarakat dalam
berbagai lapangan kehidupan, merupakan hasil dari gerakan kebangkitan perempuan
di seluruh dunia (Tahrir Al-Mar’ah). Dengan berbagai argumennya, gerakan
ini menyatakan bahwa perempuan telah ditindas oleh sebuah tradisi yang
mengutamakan laki-laki dan menganggap perempuan hanya sekedar makhluk kelas dua
yang ditakdirkan mengukuhkan tradisi tersebut.
Kalau kita merujuk
kepada konsep hak-hak asasi manusia dalam Islam, tentu itu sangat bertentangan.
Karena Islam menjunjung tinggi hak-hak manusia termasuk bagi kaum perempuan. Dalam
sebuah hadits disebutkan: “Dulu pada masa jahiliyah kami tidak
memperhitungkan kaum perempuan sama sekali, kemudian ketika dating Islam dan
Allah menyebutkan mereka di dalam kitab-Nya, kami baru tahu bahwa mereka
mempunyai hak terhadap kami” (HR. Bukhari).
agamapun
sering dijadikan alasan untuk melegitimasi atas diskriminasi dan ketidak adilan
terhadap perempuan. Di Indonesia, isu perempuan terus bergulir sejalan dengan
perubahan sosial-budaya masyarakat. Lantas seperti apa peran yang dilakoni
perempuan dalam sejarah dan tradisi Islam, serta keindonesiaan, dan
bagaimanakah perhatian dan pandangan intelektual muslim Indonesia?
A.
Masa Kolonial (Sebelum Penjajahan Jepang)
Pada
masa ini yang menjadi subjek/pelaku adalah dari kalangan bangsawan dimana yang
menjadi sasarannya adalah masalah reformasi pendidikan dan perkawinan.
Atas prakarsa “Boedi Oetomo” maka
dalam tahun 1912 didirikan perkumpulan wanita yang pertama di jakarta yang
dinamakan “Poetri Mardika” tujuan perkumpulan ini memberi bantuan, bimbingan
dan penerangan kepada gadis pribumi dalam usaha menuntut pelajaran, memberi
kesempatan kepada kaum wanita untuk bertindak di luar rumah tangga dan
meyatakan pendapatnya di depan umum, berusaha menghilangkan rasa rendah pada
wanita dan meninggikan derajatnya sehingga setingkat dengan kaum pria. Setelah
itu banyak organisasi muncul seperti : Pawijatan Wanito di magelang, “PIKAT” di
manando “Purborini” di Tegal.dan lain sebagainya.
Periode
1912 -1928 yaitu sejak berdirinya organisasi wanita yang pertama “ Poetri
Mardika” sampai diselenggarakannya Kongres Perempuan Indonesia yang pertama.
Masa ini di tandai oleh apa yang dinamakan kebangkitan nasional dalam arti
bahwa nampak kesadaaran bahwa bangsa pribumi yang berada di bawah penjajahan
asing harus mengadakan persatuan-persatuan dalam kalangan sendiri untuk meninggikan
derajatnya. Dalam kalangan wanita periode ini merupakan periode pemupukan kesadaran untuk berorganisasi
mengadakan usaha-usaha memajukan wanita.
Pergerakan
wanita selama 25 tahun yang pertama pada pokoknya bersifat kultural dalam arti
mereka memperjuangkan nilai-nilai baru dalam hal pendidikan kesusilaan dan
perikemanusiaan, khususnya meninggikan para wanita dari keluarga dan
masyarakat. Pada tanggal 22 desember 1928 ada perkumpulan wanita yang
mengadakan kongres pertama yang menghasilkan 20 perkumpulan dari gerakan wanita
yang disebut dengan (PPPI), perkembangannya badan federasi yang dinamakan
“PPPi” pada tahun 1928 menjadi (PPII), kemudian di rubah lagi pada tahun 1029
menjadi (KPI), kemudian pada tahun 1935 sejak 1945 zaman kemerdekaan dinamakan
“KOWANI”.
Pada
periode 1928-1942, yaitu terselenggaranya Kongres Perempuan Indonesia yang
pertama sampai pendudukan Jepang, masa ini di tandai semangat persatuan
nasional. Pergerakan pemumukan dan pergerakan nasional pada umumnya memuncak
yang nampak pada Sumpah Pemudah, dalam masa dengan semangat kebangsaan yang
bernyala-nyala ini timbul pula “Isteri Sedar” di Bandung (1930), selain itu ada
organisasi wanita yang juga bersemangat mengecam pemerintah kolonial, yaitu
perkumpulan wanita “Mardi Wanita” didirikan tahun 1933 oleh anggota wanita
partai politik “Pertindo” setelah partai ini dikenakan “Vergadeverbod” maka
kelompok ini di ganti namanya “Persatuan Marhaen Indonesia” berpusat di
Yogyakarta pada tahun 1935. Dalam kalangan lain juga ada kegiatan berorganisasi
wanita bangsawan di Sala yaitu perkumpulan “Putri Noarpo Wandowo” tahun 1931,
dan di tahun 1940 di Jakarta di bentuk perkumulan “Pekerja Perempuan Indonesia”
yang terdiri dari mereka yang bekerja di perkantoran, pemerintah maupun swasta,
satu hal yang mencerminkan kemajuan wanita ialah terbentuknya perkumpulan dalam
kalanagan mahasisiwi yang dinamakan “Indonesia Vrouwelijke Studen
tenvereniging-IVSV, sehingga banyak para wanita yang berkuliah.
B.
Masa Pra-Kemerdekaan (masa Penjajahan Jepang)
Ketika masa pra-kemerdekaan, gerakan perempuan di Indonesia
ditandai dengan munculnya beberapa tokoh perempuan yang rata-rata berasal dari
kalangan atas, seperti: Kartini, Dewi Sartika, Cut Nya’ Dien dan lain-lain.
Mereka berjuang mereaksi kondisi perempuan di lingkungannya. Perlu dipahami
bila model gerakan Dewi Sartika dan Kartini lebih ke pendidikan dan itu pun
baru upaya melek huruf dan mempersiapkan perempuan sebagai calon ibu yang
terampil, karena baru sebatas itulah yang memungkinkan untuk dilakukan di masa
itu. Sementara Cut Nya’ Dien yang hidup di lingkungan yang tidak sepatriarkhi
Jawa, telah menunjukkan kesetaraan dalam perjuangan fisik tanpa batasan gender.
Pada periode ini (yaitu zaman kedudukan Jepang sampai Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia antara tahun 1942-1945), dalam zaman pendudukan tentara
asing ini semua perkumpulan dilarang kecuali kelompok-kelompok yang membantu
Jepang dalam memenangkan peperangan untuk membentuk Asia Timur Raya. Dari tahun
ke tahun diadakan usaha-usaha untuk mengatasi persoalan-persoalan, baik dari
pemerintah maupun dari golongan-golongan dalam masyarakat terutama
organisasi-organisasi wanita. Di antara kelompok-kelompok itu yang didirikan
oleh penguasa Jepang ialah “Fuzin-Kai (perkumpulan wanita). Fuzinkai ialah
membantu garis depan dengan memperkuat garis belakang, bantuan garis depan
berupa latihan pekerjaan palang merah, penggunaan senjata, penyelenggaraaan
dapur umum, pembuatan kaos kaki untuk prajurit serta segala sesuatu yang berhubungan dengan perang, sedangkan
garis belakang berupa menanam kapas untuk menambah bahan pakaian, mengurus
hewan dan tanaman dan lain-lain. Dengan tidak disengaja “Fuzinkai” berguna
sebagai persiapan untuk partisipasi dalam sebuah usaha menegakkan kemerdekaan
negara dalam tahun-tahun pertama setelah Proklamasi yaitu “Persatuan Wanita
Indonesia (Perwani)”.
C.
Masa Orde Lama
Pada periode 1945-1950 yaitu proklamasi Kemerdekaan sampai
pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh dunia Internasional, merupakan
masa perang kemerdekaan melawan penjajahan kembali, organisasi-organisasi
wanita timbul sesuai dengan tuntutan zaman, yaitu yang mempunyai tujuan ikut
serta dalam usaha membela dan menegakkan kemerdekaan negara. Di tahun ini ada
semanagat persatuan baru yaitu dibentuknya “ PERWANI” yang menggantikan
Fuzinkai untuk menjalankan tugas digaris belakang dan membantu mereka yang
bertempur. Dan tidak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan didirikan Perwari yang
menjadikan perwani. Pada tahun 1945 didirikan pula “Pemuda-Putri”, di bidang
politik juga nampak kegiatan dengan didirikannya “Masyumi” dengan bagian
Muslimatnya, pada masa perjuangan ini juga timbul organisasi wanita yang
mempunyai sifat khusus yaitu antara para isteri dalam lingkungan angkatan
Bersenjata “Persaudaraan Isteri Tentara-Persit” (3 April 1946), “Jalasenastri”
(1949) dan “persatuan Istri Polisi” (17 agustus 1949).
Periode 1950-1959, yaitu kedaulatan Republik Indonesia diakui
sampai politik Pemerintah berlandaskan gagasan Demokrasi Terpimpin, setelah
kedaulatan negara diakui oleh dunia internasional dan peperangan berakhir maka
perhatian dapat dicurahkan kepada pembangunan di segala bidang. Dan ternyata
bahwa dalam periode ini bidang politik meminta banyak sekali perhatian karena
adanya bermacam-macam persoalan yang bertalian dengan penyusunan kekuatan
partai-partai, pada tahun 1955 kaum wanita mendapat hak pilih menentukan hasil
pemilihan umum, dan tidak kurang dari 6 organisasi wanita dibentuk yang
merupakan bagian dari politik, dan di antaranya ada yang didirikan oleh
anggota-anggota wanita dari suatu politik, dan ada yang didirikan karena
dipengaruhi oleh sesuatu partai politik yaitu: “Parkiwa, Gerwis, Perwamu,
Wanita Demokrat Indonesia dan Wanita Nasional, organisasi-organisai wanita yang
mempunyai hubungan dengan partai-partai politik tersebut dimaksudkan untuk
membantu partai dengan menyebar luaskan ideologinya dan mendukungnya pada
pemilihan umum, tapi mempunyai kedudukan yang cukup otonom dengan anggaran
dasar yang tersendiri.
Perkembangan dalam priode setelah ditetapkanya demokrasi terpimpin
ialah bahwa bahwa organisasi wanita mengalami pengaruh dari
pertentangan-pertentangan dibidang politik, tetapi disampingnya itu mereka
lebih didikut sertakan dalam usaha-usaha pembangunan nasional melalui badan
koordinasi golongan-golongan fungsional “sekber Golkar”.
D.
Masa Orde Baru
Periode
1966 sampai 1976, yaitu sejak pemerintahan Orde Baru sampai sekarang, dalam
masa peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru sebuah kelompok wanita yang terdiri
dari beberapa organisasi, kebanyakan golongan agama (yang paling menentang
aliran kiri), memegang peranan yaitu kelompok yang dinamakan KAWI, ada juga
KAMI, KAPI dan KAPPI, seperti periode sebelumnya, periode ini juga di tandai
oleh makin banyaknya berdirinya organisasi ostri dan karyawati dalam jawatan
pemerintahan diantaranya IKKH (1966)dan lain-lain, selanjutnya organisasi yang
mempunyai bidang kegiatan khusus seperti PERWOSI dan KNKWI, dan suatu
perkembangan penting ialah bahwa organisasi di kalangan ABRI ditetapkan sebagai
semi-dinas. Perlu dicatat di sini bahwa dalam periode ini belum ini terbentuk
organisasi wanita sebagai pemdukung atau yang berafiiliasi dengan partai
politik sejak diadakan penyederhanaan dalam partai politik menjadi duah buah
yaitu “Partai Persatuan Pembangunan” (dahulu, NU, Permusi, PSII dan Peri) dan
“Partai Demokrasi Pembangunan” (dahulu PNI, Partai Katolik, Perkindo, IPKI dan
Partai Murba) dalam bulan Januari 1973. Dan yang menarik perhatian juga ialah
bahwa terbentuknya kelompok yang emmpunyai kehiatan dalam bidang tertentu yang
diapresiasikan oleh kaum wanita dan kebanyakan anggotanya terdiri dari kaum
wanita misalnya “Mitra Budaya”, Yayasan lemabaga konsumen dan Ikatan sekretaris
Indonesia.
E.
Masa Reformasi
Pada periode akhir abad 20 jumlah organisasi perempuan semakin
banyak dengan bentuk tujuan yang beragam. Fokus kegiatan mereka tidak hanya
perbaikan kedudukan wanita dan hukum, tetapi juga mengusahakan agar semakin
banyak wanita menempati kedudukan sebagai pengambil keputusan.
Pada
masa ini juga perempuan sudah memperoleh hak 30 % pada ranah politik dan sudah
mulai punya peran di berbagai bidang.
F.
Kesimpulan
Secara
global kesetaraan gender di Indonesia mulai diperjuangkan oleh R.A Kartini yang
lahir di Jepara 21 April 1879. Kita semua tahu bagaimana beliau memperjuangkan
hak kesetaraan dengan mendirikan sekolah wanita. Kini hal kesetaraan sudah
lebih memasyarakat di Indonesia. Kita tidak perlu heran bila melihat ada
pejabat di Republik ini diisi oleh kaum perempuan. Contoh paling dekat adalah
adanya Presiden, bupati Kapolsek dan sebagainya. Profesi lain yang juga merupakan
bukti kesetaraan gender yakni kaum perempuan juga sudah diterima menjadi Sopir
Busway.
Jadi
tidak lah mengherankan bila kita mendapatkan bahwa kaum perempuan mendapatkan
posisi-posisi di masyarakat luas. Apalagi secara politik dalam kelengkapan persyaratan
Partai Peserta Pemilu 2014 yang akan datang diputuskan bahwa harus ada 30 %
kaum perempuan yang masuk sebagai kader partai.
Daftar Rujukan
ü Ellys Sudarwati. “Artikel YLPHS: Kesetaraan Gender dalam al-Kitab”
diakses pada 28 November 2013 dari http://www.gkj.or.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=797
ü Hikmah Bafagih, “Sejarah Gerakan Perempuan” , artikel
diakses pada 17 September 2013, dari http://sejarah-gerakan-perempuan.html http://
ü Ilvi Nur Diana, Msi, Wacana dan Gerakan Perempuan Islam di Indonesia,
(Pdf)
ü “ Islam dan Gender” diakses pada 28 November 2013 dari http://www.fahmina.or.id/artikel-a-berita/artikel/994-ketidakadilan-gender.html
ü
Sukanti Suryochondro,
Potret Pergerakan Wanita di Indonesia. Jakarta : CV Raja Wali, 1984
ü
_________.
Pengantar Kajian Gender. Jakarta: Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Syarif
Hidayatullah, 2002








0 komentar:
Posting Komentar