RESPONDING
PAPER
RELASI GENDER
DI DALAM AGAMA BUDDHA
*oleh: Ifa Nur
Rofiqoh (1111032100049)
Sang Budha
mendapat pertanyaan dari seorang Bikhu yang bernama Amanda; "Apakah
seorang perempuan yang menjalani kehidupan kesucian dapat mencapai kesucian
sebagaimana laki-laki. Pertanyaan ini dijawab oleh Sang Budha;
"Bisa."
Di dalam ajaran
Buddha sifat atau potensi kebuddaan dimiliki oleh setiap makhluk hidup dan
pencapaiannya tidak memandang perbedaan jenis kelamin. Yang terpenting disini
adalah tujuan ajaran Buddha dalam memperjuangkan hak gender adalah pembebasan
(Willis, 2008:10). Selain pembebasan dalam memperjuangkan hak gender, ajaran
Buddha sendiri juga mendukung adanya gerakan kesetaraan gender.
a.
Status Perempuan dalam Ajaran Agama Buddha
Dalam
tradisi Buddhisme, sejak awal memberikan tempat kepada perempuan egaliter
dengan laki-laki. Hal ini misalnya dapat dilihat betapa perempuan dan laki-laki
memiliki hak yang sama dalam menempuh jalan spiritual untuk mencapai Nirwana.
Hal ini termaktub dalam teks: “Siapapun yang memiliki kendaraan seperti itu,
baik perempuan maupun laki-laki, sesungguhnya dengan mempergunakan kendaraan
tadi, ia akan mencapai Nirwana”. Buddhisme juga memiliki ordo rahib perempuan,
dia dapat mencapai Nirwana. Karenanya, rintangan utama untuk mencapai
pencerahan bukanlah perempuan, tetapi sikap mental. Namun demikian, dalam
aliran Buddha Mahayana, perempuan diposisikan lebih rendah daripada laki-laki.
b.
Peran Perempuan dalam Sejarah Perkembangan Agama Buddha
Dalam kehidupan
bermasyarakat, sang Budha tidak membedakan peran laki-laki maupun perempuan.
Mereka memliki peran yang setara dan adil. Seperti laki-laki, perempuan juga
bisa menjadi majikan, atasan, guru(brahmana) sesuai kotbah sang Budha.
Mengacu pada
perkembangan budha Dharma bahwa pemberdayaan dan kemitrasejajaran perempuan
telah diperjuangkan dan ditumbuhkembangkan oleh sang Budha. Hal ini dapat
dikaji dari kisah-kisah siswa Budha yang sebagian adalah perempuan dan
diterangkan pula bahwa perempuan membawa peran penting dalam perkembangan agama
Budha
Kesetaraan
gender dalam agama Budha didasari kewajiban dan tanggungjawab bersama dalam
rumah tangga dan adanya kehendak bersama dalam menjalankan kehidupan berumah tangga.
Menurut agama Budha, manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan yang muncul
bersama di muka bumi ini. Dan dia dapat terlahir sesuai dengan karmanya
masing-masing, sehingga kedudukan antara laki-laki maupun perempuan dalam agama
budha tidak dipermasalahkan. Agama Buddha membimbing umatnya untuk menghargai
gender.
Dalam
Paninivana Sutta, sang Budha mengatakan seluruh umat manusia tanpa tertinggal
memiliki jiwa Budha. Laki-laki dan perempuan memiliki tugas yang agung,
karenanya agar terjadi keseimbangan dalam menjalanjan fungsi kehidupannya, maka
keduanya memiliki karakter yang berlawanan, padahal justru dari sinilah muncul
keseimbangan.
c.
Penolakan terhadap argumen “setara” dalam Buddhisme.
Dalam agama Budha, kehidupan dicapai
dalam dua komunitas, yaitu komunitas religius dan sekuler. Dalam komunitas
religius, jelas bahwa diskriminasi muncul, yaitu hilangnya hak perempuan untuk
ditahbiskan menjadi bikhuni, seperti pada waktu Sang Budha hidup. Karena tangga
bikhuni dianggap sudah hancur dan tidak pernah bisa didirikan kembali ketika
India dan Srilanka diserang oleh Bangsa Turki dan Holland. Karena syarat
pentahbisan bikhuni dianggap sudah mati, maka kaum perempuan sudah tidak bisa
dioptimasi. Hal ini sudah melawan doktrin dasar Sang Budha tentang kesetaraan.
Dalam lapangan sekuler (kehidupan rumahtangga), cacat ini tidak begitu terlihat. Sehingga ada ilmuwan yang menyatakan kesempurnaan teori Sang Budha karena tidak menemukan teks-teks yang bersifat metogenis dalam ajaran dasarnya. Maka seakan-akan, dalam ajaran Sang Budha, kesetaraan gender ini sudah terwujud, padahal sebenarnya tidak juga.
Dalam lapangan sekuler (kehidupan rumahtangga), cacat ini tidak begitu terlihat. Sehingga ada ilmuwan yang menyatakan kesempurnaan teori Sang Budha karena tidak menemukan teks-teks yang bersifat metogenis dalam ajaran dasarnya. Maka seakan-akan, dalam ajaran Sang Budha, kesetaraan gender ini sudah terwujud, padahal sebenarnya tidak juga.
Hidup Berkeluarga dalam Agama Budha Jika
dalam agama Islam, Kristen, Hindu, pernikahan dianggap sakral, di dalam agama
Budha tidak. Dalam Budha, ordo apapun, perkawinan semata-mata dianggap urusan
duniawi. Oleh karena itu tidak ada sanksi religius di dalam hubungan suami
istri. Jadi kalau laki-laki dan perempuan merasa cocok, maka tinggal masalah
komitmen saja.
Meskipun Sang Budha tidak banyak
berbicara masalah perkawinan, tetapi Sang Budha juga mengajarkan hubungan
keluarga, tentang suami istri yang penuh kasih sayang dan setara. Namun dalam
Budhisme, dalam hubungan keluarga ini yang ditekankan adalah masalah kewajiban
saja, bukan hak dan kewajiban. Hal ini dikarenakan adanya doktrin Anata, tidak
ada aku, tidak ada aku yang berdiri sendiri. Jadi dalam tubuh manusia tidak ada
yang disebut sebagai aku, melainkan hanya elemen.
Dalam sejarah Budhisme, lima tahun sejak
terbentuknya komunitas bikhu sangga, para kaum laki-laki menjalani hidup suci.
Mereka ditahbiskan oleh sang Budha membentuk suatu komunitas besar yang hidup
selibat berpetualang di hutan-hutan, tidak menetap di vihara. Karena dalam
pandangan Budhisme awal bahwa hidup selibat merupakan cara yang paling efektif
untuk mencapai kebebasan tertinggi yaitu valhala.
Dengan adanya kenyataan seperti itu, para perempuan juga menginginkan hal yang sama.
Dengan adanya kenyataan seperti itu, para perempuan juga menginginkan hal yang sama.
Dalam teori hukum karma, kelahiran
sebagai perempuan merupakan karma buruk. Sang Budha merevolusi hukum tersebut
dengan penemuan baru teori hukum karma bahwa laki-laki dan perempuan adalah
sama, tidak dibedakan berdasarkan fisik, kelas kastanya, tetapi dari perbuatan
masing-masing. Mendengar ajaran itu, para perempuan dari suku Satya yang
semuanya bangsawan (dimulai dari bibi Sang Budha sendiri yang menjadi ibu tiri
yang membesarkannya, yaitu Mahapati Gotami) dan istri Sang Budha sendiri, Tias
Negara, menghadap kepada Sang Budha dan memohon; "Sang Budha, alangkah baiknya
perempuan juga diperbolehkan untuk menjalani hidup suci karena kami ingin
mencapai kesucian". Sang Budha menjawab; "Berhati-hatilah dengan
keinginanmu itu". Permohonan ini tiga kali ditolak, hingga para perempuan
ini meminta bantuan asisten Sang Budha yaitu Bikhu Amanda dan ternyata
permohonan masih ditolak. Tetapi pada akhirnya permohonan ini dikabulkan.
Hal yang ditekankan dalam Budhisme
tentang kehidupan berkeluraga adalah kewajiban yang harus diberikan kepada
anggota keluarga lainnya. Mereka berfikir bagaimana membahagiakan anggota
keluarga yang lain daripada berpikir kepentingannya sendiri.
Namun dalam konteks prilaku, hubungan laki-laki dan perempuan masih dipengaruhi oleh budaya India yang patrialistik. Jadi kalau secara teori kelihatannya agama Budha selangkah lebih maju tetapi ternyata beban kultur patrialistik masih tetap ada. Misalnya; ada teks yang menyatakan bahwa perempuan yang dianggap sebagai istri sempurna adalah perempuan yang bangun lebih dulu dari suaminya, selalu pergi tidur setelah suaminya tertidur, selalu patuh pada suaminya, selalu bersikap ramah dan sopan, dari mulutnya hanya keluar kata-kata ramah dan sopan. Teks-teks minor seperti itu setelah dianalisis oleh feminmis Budhis, terlihat ketidaksesuaian teks-teks tersebut dengan teks-teks yang lain, ketidaksingkronan antara teks-teks dengan spirit ajaran Budha yang egaliter.
Dalam aliran Therrawada, dengan hidup selibat, waktu akan terfokus habis untuk meditasi dan sebagainya. Kalau berkeluarga taanggungjawab akan banyak terbagi untuk mengurusi pasangannya, untuk mengurus anak, untuk mencari penghasilan keluarga dan sebagainya. Sementara para bikhu ini dapat hidup dari sokongan umat, jadi waktu mereka betul-betul terkonsentrasikan untuk meditasi dan membimbing umat.
Tetapi meskipun demikian, Sang Budha mengatakan bahwa peluang untuk mencapai kesucian antara orang yang hidup berumahtangga dean orang yang hidup selibat adalah sama.
Namun dalam konteks prilaku, hubungan laki-laki dan perempuan masih dipengaruhi oleh budaya India yang patrialistik. Jadi kalau secara teori kelihatannya agama Budha selangkah lebih maju tetapi ternyata beban kultur patrialistik masih tetap ada. Misalnya; ada teks yang menyatakan bahwa perempuan yang dianggap sebagai istri sempurna adalah perempuan yang bangun lebih dulu dari suaminya, selalu pergi tidur setelah suaminya tertidur, selalu patuh pada suaminya, selalu bersikap ramah dan sopan, dari mulutnya hanya keluar kata-kata ramah dan sopan. Teks-teks minor seperti itu setelah dianalisis oleh feminmis Budhis, terlihat ketidaksesuaian teks-teks tersebut dengan teks-teks yang lain, ketidaksingkronan antara teks-teks dengan spirit ajaran Budha yang egaliter.
Dalam aliran Therrawada, dengan hidup selibat, waktu akan terfokus habis untuk meditasi dan sebagainya. Kalau berkeluarga taanggungjawab akan banyak terbagi untuk mengurusi pasangannya, untuk mengurus anak, untuk mencari penghasilan keluarga dan sebagainya. Sementara para bikhu ini dapat hidup dari sokongan umat, jadi waktu mereka betul-betul terkonsentrasikan untuk meditasi dan membimbing umat.
Tetapi meskipun demikian, Sang Budha mengatakan bahwa peluang untuk mencapai kesucian antara orang yang hidup berumahtangga dean orang yang hidup selibat adalah sama.
Menurut beberapa sarjana melihat bahwa sang Buddha merupakan makhluk hidup
dalam budaya tertentu dengan dipengaruhi oleh kebudayaan dimana ia dibesarkan.
Pencapaian Buddha sangat luar biasa dan melebihi para dewa dan manusia, namun
yang masih dipertanyakan disini mengapa sang Budha masih mengkhawatirkan atas
kritikan-kritikan dari masyarakat di masanya? Dari semua hal yang telah dibahas
diatas bahwa ajaran Buddha mendukung adanya gerakan kesetaraan gender. Tetapi
dalam kenyataannya kesetaraan gender belum terjadi didalam kehidupan
sehari-hari para biksuni yang masih dibawah otoritas para biksu.
d.
Reinterpretasi dan Adaptasi Peran-Peran Gender Tradisional
dari tradisi Mahayana. Dia melihat
bahwa ajaran-ajaran Budha, meskipun itu terdapat dalam teks-teks Tripitaka yang
bersifat seksis, merupakan pengaruh dari Konfusianisme, sikap anti feminis dari
Hindu (Brahmanisme)dan pengaruh dari agama-agama lokal.
Ajaran Budha yang paling dasar,
yaitu egalitarianisme, ternyata justru menjebak. Karena agam Budha yang
dipercaya tidak seksis, ternyata ada teks-teks ajarannya yang bersifat seksis.
Sehingga perlu adanya reinterpretasi dan kalau perlu, reformasi.
Daftar Rujukan
ü Aris Setiawan. “Homoseksualitas dalam pandangan ajaran Agama Buddha”
diakses pada 28 November 2013 dari http://matarisehatiyogyakarta.blogspot.com/2008/12/homoseksualitas-dalam-pandangan-ajaran.html
ü
Arvind
Sharma. Perempuan dalam agama-agama Dunia. Jakarta: Ditpertais Depag
Ri-CIDA-McGill Project, 2002
ü
Umi
Sumbulah (Dosen Fakultas Syari’ah UIN Malang, Sekretaris PSG UIN Malang dan
kandidat Doktor IAIN Sunan Ampel Surabaya). “Agama dan Keadilan Gender: Kondisi
Perempuan dalam Agama-Agama” (Pdf)
ü Wilis Rengganiasih. “Pemahaman Sikap Adil Gender Dalam Budha”
diakses pada 28 November 2013 dari http://cfis.uii.ac.id/content/view/46/87/








0 komentar:
Posting Komentar